Artikel Populer

Dr Mandaku: Pemindahan MIP Perlu Kajian Mendalam, Yos Sudarso Tidak Layak, Batu Gong dan Tulehu Jadi Opsi

Dr Mandaku: Pemindahan MIP Perlu Kajian Mendalam, Yos Sudarso Tidak Layak, Batu Gong dan Tulehu Jadi Opsi

Ambon , News Medianusantara.com - Pemindahan lokasi Maluku Integrated Port (MIP) dari Waisarisa, Pulau Seram ke Kota Ambon terus menjadi perbincangan publik, khususnya di Kabupaten Seram Bagian Barat (SBB).


Akademisi Fakultas Teknik Universitas Pattimura (Unpatti) Ambon,  Dr. Hanok Mandaku, ST, MT, menegaskan bahwa penentuan lokasi MIP harus melalui kajian komprehensif berbasis metode pengambilan keputusan multi-kriteria, bukan hanya mempertimbangkan satu aspek semata.


Hal tersebut disampaikan Mandaku di ruang kerjanya, Laboratorium Terpadu Pendukung Blok Masela Unpatti Ambon, baru - baru ini.


Menurutnya, terdapat sedikitnya empat variabel utama yang harus menjadi pertimbangan dalam menentukan lokasi Maluku Integrated Port.


“Pertama, aspek keamanan dan keselamatan pelayaran. Kedua, kesiapan infrastruktur dan peluang ekspansi ke depan. Ketiga, potensi permintaan dan hinterland, termasuk jumlah penduduk sebagai konsumen. Keempat, dukungan konektivitas multimoda,” jelasnya.


Ada Empat hingga Lima Kawasan Potensial berdasarkan pendekatan tersebut, Mandaku menilai ada beberapa kawasan di Maluku yang layak dikembangkan sebagai bagian dari sistem pelabuhan terintegrasi.


Untuk kawasan Pulau Seram dan Pulau Ambon, opsi yang mengemuka antara lain Waisarisa di SBB, Pelabuhan Yos Sudarso di Kota Ambon, serta dua alternatif lain yakni Pelabuhan Kayu Manis di Batu Gong dan Pelabuhan Tulehu.


Selain itu, terdapat pula alternatif lain di wilayah Maluku, yaitu:

Pelabuhan Namlea

Pelabuhan Saumlaki

Pelabuhan Tual


“Kalau kriteria tadi didekatkan pada pelabuhan-pelabuhan tersebut, masing-masing memiliki kelebihan dan kekurangan,” ujarnya.


Ia menjelaskan, Pelabuhan Yos Sudarso memiliki keunggulan dari sisi kesiapan infrastruktur awal, potensi permintaan, dan dukungan konektivitas multimoda.


Sementara Namlea unggul karena potensi hinterland sebagai lumbung pangan Maluku.


Pelabuhan Saumlaki dinilai strategis untuk mendukung pengembangan industri migas Blok Masela, sedangkan Pelabuhan Tual memiliki keunggulan sebagai pusat pergerakan industri perikanan dan kelautan.


Konsep Multigate dan Hub and Spoke ,Mandaku menegaskan bahwa pembangunan MIP tidak seharusnya terpusat hanya pada satu pelabuhan. 


Konsep yang lebih tepat, menurutnya, adalah pendekatan multigate system atau pintu jamak dengan landasan teori hub and spoke dalam jaringan transportasi laut Maluku.


Dalam konsep tersebut, Pulau Ambon berperan sebagai simpul sentral (hub) karena kesiapan infrastruktur, dukungan konektivitas laut dan udara, serta potensi permintaan yang besar.


Sementara Saumlaki dan Tual dapat menjadi simpul frontier yang terhubung langsung dengan jaringan ekspor internasional di jalur selatan, dan Namlea sebagai simpul pendukung.


Yos Sudarso Dinilai Terbatas

Meski demikian, Mandaku menilai Pelabuhan Yos Sudarso relatif sulit dikembangkan sebagai pelabuhan terintegrasi skala besar.


“Keterbatasan wilayah menjadi kendala utama. Jika dikembangkan untuk kendaraan berat dan aktivitas skala besar, itu akan membebani jaringan jalan eksisting serta berisiko terhadap keselamatan,” katanya.


Sebagai alternatif di Pulau Ambon, ia merekomendasikan dua lokasi yang dinilai lebih prospektif, yakni kawasan Paso-Kayumani di Batu Gong dan Pelabuhan Tulehu.


Kedua lokasi tersebut dianggap memiliki peluang pengembangan wilayah yang lebih luas serta dukungan konektivitas yang relatif lebih baik, baik ke transportasi udara maupun jaringan distribusi ke Pulau Seram dan Kepulauan Lease.


Terkait usulan pengembangan di Waisarisa, Mandaku menyebut masih perlu kajian mendalam. Salah satu kelemahan utama kawasan tersebut adalah keterbatasan infrastruktur dasar, dukungan konektivitas multimoda, serta potensi permintaan yang masih terbatas.


“Kalau itu dipaksakan, maka distribusi barang ke wilayah lain di Maluku bisa terhambat,” ujarnya.


Ia menegaskan, ke depan pengembangan pelabuhan di Maluku idealnya mencakup sedikitnya lima pelabuhan dalam satu sistem terintegrasi, dengan simpul utama di Pulau Ambon, wilayah selatan di Saumlaki, wilayah timur di Tual, dan wilayah barat di Namlea.


“Soal titik simpul sentral di Pulau Ambon itu di mana, tentu masih bisa dipertimbangkan. Tapi hemat kami, Yos Sudarso sudah sangat terbatas, sehingga Batu Gong dan Tulehu lebih layak dikaji sebagai alternatif,” pungkasnya.


Komentar

  1. Belum Ada Komentar

Tambahkan Komentar

Testimonial

Blognya keren !!...

Mila Karmila

Metode SEO yang sangat keren!!!......

Dian Herliwan
Kategori