Label Mewah, Fondasi Rapuh: Ambon City of Musik Dinilai Belum Didukung Ekosistem Kuat

Label Mewah, Fondasi Rapuh: Ambon City of Musik Dinilai Belum Didukung Ekosistem Kuat

Ambon, News Medianusantara.com - Lima tahun setelah menyandang predikat Kota Musik dari UNESCO melalui jaringan UNESCO Creative Cities Network, Ambon masih menghadapi tantangan mendasar dalam membangun ekosistem musik yang berkelanjutan.


Gelar internasional tersebut memang menjadi kebanggaan. Namun, menurut akademisi perencanaan Wilayah dan kota, Universitas Pattimura (Unpatti) Ambon Kreisson Pisty Larwuy, pengakuan itu belum sepenuhnya diikuti dengan pembangunan sistem yang menopang identitas Ambon sebagai Kota Musik.


“Pengakuan ini bukan garis finis, melainkan titik awal. Persoalannya, fondasi ekosistemnya belum sepenuhnya terbentuk,” ujarnya.


Identitas Masih di Permukaan


Selama ini, wajah Ambon sebagai Kota Musik lebih banyak ditampilkan melalui simbol visual seperti mural, papan nama, dan penyelenggaraan event. Namun, dalam perspektif perencanaan kota, identitas tidak cukup dibangun dari tampilan.


Identitas kota, menurut Larwuy yang juga dosen Arsitektur Ukim Ambon itu, seharusnya hadir dalam sistem yang lebih dalam—termasuk kebijakan, infrastruktur, dan perencanaan ruang.

Tanpa itu, identitas hanya bersifat sementara dan mudah memudar.


Pendidikan Musik Belum Berjenjang


Salah satu masalah utama adalah belum tersambungnya jalur pendidikan musik. Meski perguruan tinggi telah memiliki program studi musik, jalur pendidikan dari tingkat dasar hingga menengah masih terbatas.


Ketiadaan sekolah menengah kejuruan musik atau konservatori membuat banyak talenta muda tidak memiliki jalur pengembangan yang jelas. Akibatnya, potensi besar yang dimiliki kota ini berisiko berkembang di luar daerah.


Representasi Budaya yang Belum Merata


Ambon dikenal memiliki keragaman musik yang kaya, mulai dari tradisional hingga kontemporer. Namun, representasi tersebut belum sepenuhnya tercermin dalam wajah kota.


“Yang tampil masih sebagian kecil. Padahal kekayaan musik Ambon jauh lebih luas dari itu,” kata Larwuy pada media ini di Ambon, Sabtu (28/3/2026).


Kebijakan dan Tata Ruang Belum Mendukung


Dalam dokumen perencanaan seperti Rencana Tata Ruang Wilayah (RTRW) dan Rencana Detail Tata Ruang (RDTR), identitas Kota Musik dinilai belum diterjemahkan secara konkret.


Belum ada penetapan kawasan kreatif musik, standar ruang publik berbasis akustik, maupun desain ruang kota yang mendukung aktivitas musikal sehari-hari.


“Kebijakan adalah fondasi. Tanpa itu, identitas hanya bergantung pada program dan anggaran jangka pendek,” ujarnya.


Akses Ruang Masih Terbatas


Masalah lain yang mencuat adalah aksesibilitas ruang bagi komunitas musik. Meski tersedia fasilitas seperti gedung pertunjukan dan ruang terbuka, tidak semua komunitas dapat mengaksesnya dengan mudah.


Sebagian besar ruang masih digunakan untuk event besar, sementara ruang ekspresi harian yang inklusif bagi semua genre masih minim.


Ekosistem Komunitas Belum Seimbang


Saat ini, komunitas musik di Ambon masih didominasi genre tertentu seperti pop, hip-hop, dan jazz. Sementara genre lain belum memiliki ruang tumbuh yang memadai.


Kondisi ini menunjukkan bahwa ekosistem Kota Musik belum sepenuhnya inklusif.


Identitas Belum Dimiliki Semua Warga


Larwuy juga menyoroti bahwa identitas Kota Musik belum dirasakan secara merata oleh masyarakat. Identitas tersebut masih terbatas pada ruang-ruang tertentu dan momen tertentu.


Padahal, identitas kota yang kuat seharusnya hadir dalam kehidupan sehari-hari warga.


Dari Label ke Ekosistem


Untuk mewujudkan Ambon sebagai Kota Musik yang sesungguhnya, dibutuhkan langkah konkret. Di antaranya pembangunan pendidikan musik berjenjang, penyediaan ruang publik yang aksesibel, kebijakan tata ruang yang mendukung, serta penguatan komunitas lintas genre.


“Ambon sudah punya modal budaya yang kuat. Tantangannya sekarang adalah membangun ekosistemnya,” kata Larwuy.


Ia menegaskan, kehormatan sejati bukan terletak pada gelar, tetapi pada apa yang dibangun di baliknya.

Sumber : https://newsmedianusantara.com/label-mewah-fondasi-rapuh-ambon-city-of-musik-dinilai-belum-didukung-ekosistem-kuat-detail-462252