
Sebanyak 16,6 Ton Ikan Tuna, Gelombang Ketiga Diekspor Ke Narita Jepang
Ambon, News Medianusantara.com - Sebanyàk 16,6 ton ikan tuna, gelombang ketiga, di ekspor ke Narita Jepang, Lewat Rute penerbangan Ambon-Manado-Narita.
Hal ini di sampaikan Kepala Dinas Perindustrian dan Perdagangan Maluku, Elvis Pattiselano SE. M.Si, kepada awak media, usai memantau ekspor 16.6 ton Tuna, di Disperindag, Rabu (31/3/2021) .
Pattiselano mengatakan, total ikan tuna yang kita ekspor hari ini sebesar 16,6 ton lewat jalur Ambon-Manado-Narita, bukan lewat reguler Ambon-Jakarta-Narita.
"Setiap dua hari sekali, Ekspor Ikan Tuna dari Maluku, khususnya Kota Ambon, sebanyak 4-6 Ton, dilakukan dengan menggunakan pesawat reguler, "tuturnya.
Namun saat ini tim peningkatan ekspor Dinas Perindustrian Maluku, mencoba untuk melakukan ekspor setiap minggu menggunakan pesawat cargo khusus.
Dijelaskan ekspor pertama kali ikan tuna sebanyak 12 ton dilepas oleh Gubernur Maluku, minggu kemarin diekspor lewat Eksportir PT Peduli Laut Maluku (PELAKU) sebesar 11,5 ton, dan hari ini PT Pelaku kembali mengirim ikan tuna sebesar 16,6 ton.
"Akan tetapi karena daya angkut pesawat cargo khusus hanya 13 Ton, maka pengiriman siang ini hanya dapat dilakukan 12,5 tonton, sedangkan 4,1 ton sudah dikirim pagi tadi dengan rute, Ambon, Makasar, Manado.
”Untuk pengiriman 4,1 ton yang sudah dikirim terlebih dahulu ke Manado itu nantinya akan menunggu pengiriman 13,5 ton baru Total 16,6 ton tersebut dikirim dari Manado langsung ke Narita Jepang, “ujarnya
"Kendatipun lewat Manado tetapi label yang digunakan tetap tercatat berasal dari Ambon, karena via muat maupun PB dari Ambon, dan untuk Manado adalah transit saja.
Terkait kesiapan pihak kargo, menurut Pattiselano, pihak Garuda siap selalu dengan adanya pengiriman yang dilakukan setiap minggu.
"Pihak Indag Maluku dan PT PELAKU selalu eksportir akan mendorong agar pengiriman dilakukan setiap minggu dengan pesawat cargo langsung.
Menurutnya, dengan adanya ekspor menggunakan cargo, sangat menguntungkan, dari sisi biaya lebih murah. Dan dari sisi penanganan produk, kualitas ikan bisa terjaga. Sedangkan manfaat yang diperoleh adalah PAD bagi pemerintah , Nilai eksport tercatat, karena akan menjadi ukuran bagi pertumbuhan ekonomi.
Dari hasil pertemuan Soom dengan Kemendagri dan Kementrian Keuangan serta badan pendapatan kemarin, ternyata Maluku belum fokus ke dana Insentif daerah.
“Salah satu indikator di dana insentif daerah Adalah nilai eksport, “ujarnya.
Apabila bobotnya masuk kategori B maka dana insentif daerah dapat diperoleh, untuk tahun 2019 Maluku hanya bisa mencapai C sebesar 75, untuk masuk B harusnya nilai bobotnya 80.
Untuk tahun 2020 turun tinggal 65 padahal ekspor Maluku meningkat, hal ini dikarenakan harus bersaing dengan daerah lain sehingga ranking bisa meningkat.
Apabila nilai eksport didorong terus, maka dana insentif daerah akan bisa diperoleh, dan jika kegiatan ekspor meningkat maka dengan sendirinya akan menyerap tenaga kerja yang bekerja,"tutur Pattiselano. (MN-02)
Belum Ada Komentar