Artikel Populer

lIham Tauda : Sagu Sumber Pangan Pokok Unggulan Maluku Berbasis Kearifan Lokal & Energi Masa Depan

lIham Tauda : Sagu Sumber Pangan Pokok Unggulan Maluku Berbasis Kearifan Lokal & Energi Masa Depan

Ambon, News Medianusantara.com,- Pentingnya swasembada pangan karena dunia menghadapi krisis pangan Global dan berdampak terhadap Indonesia.

Indonesia menargetkan Swasembada Pangan 2027 dan Lumbung Pangan Dunia 2029. 

Provinsi Maluku memiliki potensi pangan lokal terutama sagu yang dapat dijadikan pangan alternatif, guna  mendukung swasembada pangan nasional.

Hal ini di sampaikan Kepala Dinas Pertanian Provinsi Maluku, Dr. Ilham Tauda, SP. M.Si, saat memberikan materi Diskusi Panel pada acara pelantikan  pengurus ICMI Maluku, bertempat di Hotel Santika Premiere Ambon, Senin, (27/01/2025).

Tauda menambahkan, sagu merupakan kebutuhan pangan masa depan Maluku dan  merupakan penguatan ketahanan pangan lokal berkelanjutan serta 

skenario pencapaian target swasembada pangan nasional pemerintah provinsi Maluku.

Dasar Hukum terkait dengan Lahan Pertanian Pangan Berkelanjutan (LP2B) di Maluku telah diatur dalam: PERGUB Maluku No.40 Tahun 2024 tentang: Perlindungan Lahan Pertanian Pangan Berkelanjutan.

Tauda menjelaskan, total luas KP2B di Provinsi Maluku tahun 2024 adalah 32.997,71 ha. 

Dari luasan ini, lanjut Tauda, terdapat tiga Kabupaten/Kota yang telah memiliki Perda LP2B, yakni: Kabupaten Maluku Tengah 10.107,75 ha, Buru 7.090,22 ha, Kepulauan Tanimbar 33,31 ha.

Selanjutnya, kabupaten Maluku Barat Daya 2.114,28 ha serta  Kabupaten Seram Bagian Barat 6.158,76 ha.

Data neraca kebutuhan beras di Provinsi Maluku (BPS) terlihat, rata- rata konsumsi beras perkapita per tahun 77 Kg/kap/tahun, jumlah penduduk 1,903.931 jiwa (pertumbuhan 1.18%/ per tahun) dan kebutuhan beras Maluku 146.531 ton/tahun (Tahun 2023),"tuturnya.

Pentingnya Sagu Sebagai Pangan Lokal

Dikatakan, Sagu (Metroxylon,sp) sebagai salah satu bahan pangan lokal mempunyai peranan sangat penting dalam menunjang ketahanan pangan daerah sekaligus ketahanan pangan nasional dan mempunyai potensi untuk mendukung swasembada pangan dan energi.

Tanaman sagu pada umumnya belum di usahakan secara optimal seperti penghasil karbohidrat lainnya. Kandungan karbohidrat dalam pati sagu yang cukup tinggi (diatas 80%), dapat digunakan sebagai bahan pangan dan bahan baku industri non pangan berbasis kearifan lokal.

Provinsi Maluku menduduki posisi 3 terbesar sentra sagu di Indonesia setelah Riau dan Papua Tengah.

Dengan luas potensi 36.462 hektar dan produksi 14.123 ton.  Dari total lahan sagu potensial di Maluku 36.462 hektar itu,  Kabupaten Seram Bagian Timur (SBT) dengan lahan potensial terbesar di Maluku ± 35.421 hektar.

Tepung sagu tentu memiliki perbandingan dengan tepung terigu dimana kandungan Protein (per 100 gram) Sagu 1.15 gram sedangkan  Padi 7.5 gram, kandungan Lemak (per 100 gram) Sagu 0.04 gram dan Padi 0.7 gram, kandungan Serat (per 100 gram) Sahu 2.05 gram dan Padi 0.2 gram, Indeks Glikemik untuk Sagu rendah sedangkan Padi sedang,  dan kandungan Pati tahan cerna untuk Sagu lebih banyak dan Padi lebih sedikit.

Realita Kondisi Lahan Sagu DI Maluku

Lahan sagu yang ada di Maluku umumnya merupakan tegakan alami (Hutan Sagu), tidak terawat dengan baik sehingga pertumbuhannya tidak teratur.

Selanjutnya, jumlah tumbuhan per satuan luas sangat padat sehingga terjadi persaingan, jumlah produksi per pohon menjadi rendah, cara pemanenan sagu di hutan sagu yang umumnya rawa sangat sulit,  proses pengangkutan tual sangat sulit, sistem drainase yang buruk,  penyediaan SDM sebagai pelaksana di lapangan dan di proses produksi sulit dilakukan.

Kondisi hutan rata-rata jumlah pohon/MT/Ha adalah 20 pohon dan rata-rata produksi per pohon adalah 200 kg pati kering per pohon," kata Tauda.

Jika dilakukan penataan yang baik maka jumlah pohon MT akan mencapai 100 pohon/ha/thn dan produksi akan mencapai 300 kg pati kering/pohon (Louhenapessy dkk., 2010).

Keunggulan Sagu Sebagai Pangan Alternatif Ketahanan Pangan

Kapasitas pemenuhan pangan tinggi dengan pengembangan potensi sagu berbasis kearifan lokal untuk membantu ketahanan pangan nasional.

Pohon Sagu tahan di lahan tropis dan berpotensi menjadi sumber pangan utama di Indonesia Timur/Maluku.

Inovasi Distan Maluku MATA SAGU “MANGGUREBE TATA SAGU” yaitu mengubah kondisi hutan sagu menjadi kondisi kebun sagu atau perkebunan sagu, meningkatkan produksi per satuan luas melalui peningkatan jumlah pohon masak tebang (MT) dan produksi per pohon,  mengubah kondisi hutan sagu menjadi kondisi kebun sagu atau perkebunan sagu, meningkatkan produksi per satuan luas melalui peningkatan jumlah pohon masak tebang (MT) dan produksi per pohon, mempermudah proses perbaikan sistem drainase dan memperluas permukaan masuknya sinar matahari, mempermudah kegiatan budidaya dan pemeliharaan tanaman, memanfaatkan lahan antara tanaman sagu untuk pengembangan budidaya lainnya yang sesuai.

Penataan Hutan Sagu mulai tahun 2016 – 2021. Tahun 2016, Pembangunan kebun Plasma Nutfah Sagu seluas 1 ha, tahun  2017 Pemeliharaan lahan sagu seluas 25 ha tahun 1, 2018 Pemeliharaan lahan sagu seluas 25 ha tahun 2, 2019 Pemeliharaan lahan sagu seluas 25 ha tahun 3 dan Penambahan penataan lahan sagu 25 ha, tahun 2020  Pemeliharaan lahan sagu seluas 25 ha tahun 4, 2021 Pemeliharaan lahan sagu seluas 50 ha tahun 5 penilaian dan penetapan kebun Blok Penghasil Tinggi (BPT).

Aneka Produksi Olahan dari Sagu Mama Papua (Produk olahan sagu bahan baku dari Papua); Ratu Andan (Tepung Sagu dari Seram Bagian Timur) Sawa, (Beras Sagu Waraka dari Maluku Tengah) Mie Sagu Cempaka, (Produk olahan dari Ambon) dan TEPUNG SAGU (Produk dari Ambon).

Diakhir pemaparannya, Tauda  menjelaskan, penataan dan pengembangan tanaman sagu di Maluku sebagai pangan pokok unggulan Maluku berbasis kearifan lokal, melakukan hilirisasi sagu menjadi Beras.

Sagu dalam mendukung ketahanan dan kemandirian pangan daerah, Konservasi sumber daya hutan sagu, menjaga keseimbangan ekosistem serta sumber daya air untuk pembangunan berkelanjutan.

Pengelolaan dan penataan hutan hutan sagu berbasis partisipasi masyarakat.

Membangun kemitraan dengan pelaku usaha dalam mendukung agroindustri sagu.

Meningkatkan nilai tambah sagu serta mendorong pemanfaatan limbah sagu sebagai pakan ternak dan sumber bio energi," tutup Tauda yang juga sebagai wakil ketua ICMI Maluku periode 2025-2030.

Untuk diketahui, kegiatan diskusi panel ini juga menghadirkan narasumber lain yakni , Prof. Dr. Ing. Ilham A. Habibie, M.B.A. Ketua Dewan MPP ICMI dengan topik inovasi dan hilirsasi komoditas Unggulan dalam rangka peningkatan nilai tambah, daya saing dan transformasi ekonomi bangsa dan Rektor Unpatti,  Prof. Dr. Fredy Leiwakabessy, M.Pd, dengan topik transformasi pendidikan tinggi untuk mendukung akselerasi Maluku maju menuju Indonesia Emas 2045. (MN-02)


Komentar

  1. Belum Ada Komentar

Tambahkan Komentar

Testimonial

Blognya keren !!...

Mila Karmila

Metode SEO yang sangat keren!!!......

Dian Herliwan
Kategori