Artikel Populer

Rokok Murah, Biaya Kesehatan Mahal : Menggugah Kesedaran Warga Ambon

Rokok Murah, Biaya Kesehatan Mahal : Menggugah Kesedaran Warga Ambon

Oleh: Marisa Lasamahu, Mahasiswa S2 Manajemen Pelayanan Kesehatan


Ambon, News Medianuantara.com - Rokok murah, kesehatan mahal. Kalimat ini bukan sekadar ungkapan, tetapi kenyataan yang setiap hari kita saksikan di sekitar kita, termasuk di Kota Ambon. Di berbagai sudut kota, dari warung kopi, hingga pasar. Rokok masih mudah didapat dengan harga terjangkau. Bahkan, tidak sulit menemukan anak muda yang membeli rokok eceran tanpa pengawasan.


Murahnya harga rokok menjadi ironi ketika dibandingkan dengan mahalnya biaya pengobatan akibat penyakit yang ditimbulkannya. Di balik setiap batang rokok, tersimpan risiko penyakit kronis seperti kanker paru, penyakit jantung, stroke, dan bronkitis kronis yang semakin membebani masyarakat dan sistem kesehatan daerah.


Beban Ganda Kesehatan di Ambon


Kota Ambon saat ini menghadapi tantangan double burden of disease atau beban ganda penyakit. Di satu sisi, penyakit menular seperti tuberkulosis dan infeksi saluran pernapasan masih banyak ditemukan di puskesmas. Di sisi lain, kasus penyakit tidak menular seperti hipertensi, diabetes, dan penyakit jantung terus meningkat dari tahun ke tahun.

Sebagai dokter di puskesmas, saya sering menjumpai pasien dengan keluhan batuk kronis, sesak napas, atau tekanan darah tinggi yang ternyata sudah lama menjadi

perokok aktif. Bagi mereka, rokok terasa ringan di dompet, tetapi beban kesehatannya sangat berat, baik secara fisik maupun finansial.


Cukai Tembakau: Potensi yang Belum Optimal


Cukai tembakau sejatinya bukan hanya instrumen fiskal untuk menambah pendapatan

negara, melainkan juga alat pengendalian konsumsi rokok dan sumber pembiayaan bagi

sektor kesehatan. Namun dalam praktiknya, pemanfaatan dana bagi hasil cukai hasil tembakau (DBHCHT) di daerah, termasuk di Ambon, masih belum maksimal.


Masih banyak ruang untuk memperkuat penggunaan dana tersebut bagi kegiatan promotif dan preventif, seperti kampanye berhenti merokok di sekolah, pelatihan konselor berhenti merokok di puskesmas, serta peningkatan layanan deteksi dini penyakit akibat rokok.


Pemerintah daerah perlu memastikan bahwa setiap rupiah dari dana cukai benar-benar

kembali kepada masyarakat dalam bentuk peningkatan derajat kesehatan, bukan sekadar menutup defisit anggaran atau kegiatan administratif.


Beban Finansial yang Tak Terlihat


Masalah lain yang jarang disadari adalah beban biaya kesehatan yang harus ditanggung langsung oleh masyarakat, atau dikenal dengan out-of-pocket expenditure (OOP).

Banyak Masyarakat yang terpaksa mengeluarkan uang pribadi untuk membeli obat, melakukan pemeriksaan laboratorium, atau kontrol rutin akibat komplikasi penyakit akibat merokok.


Kondisi ini semakin berat bagi masyarakat berpenghasilan rendah. Ketika uang rumah

tangga habis untuk biaya berobat, maka kebutuhan lain seperti pendidikan dan pangan

ikut terkorbankan. Akhirnya, kemiskinan dan penyakit menjadi lingkaran yang sulit diputus.


Kebijakan dan Kesadaran Kolektif


Upaya mengendalikan konsumsi rokok di Ambon membutuhkan dua kekuatan besar: kebijakan yang tegas dan kesadaran masyarakat. Pemerintah daerah harus berani

memperluas penerapan Kawasan Tanpa Rokok (KTR), memperketat pengawasan penjualan rokok kepada anak di bawah umur, dan meningkatkan harga rokok melalui penyesuaian cukai agar tidak mudah dijangkau.

Sementara itu, masyarakat juga harus ikut berperan. Berhenti merokok bukan hanya urusan pribadi seseorang, tetapi juga tanggung jawab sosial untuk melindungi keluarga dan lingkungan dari paparan asap rokok. Puskesmas dapat menjadi ujung tombak edukasi dan konseling berhenti merokok melalui pendekatan yang empatik dan berkesinambungan.


Penutup


Kesehatan masyarakat kota Ambon adalah modal utama pembangunan. Jangan biarkan

generasi muda kita kehilangan produktivitas hanya karena harga rokok yang terlalu murah dan kesadaran yang rendah akan bahayanya.

Sudah saatnya semua pihak, pemerintah, tenaga kesehatan, tokoh masyarakat, hingga keluarga bersatu melawan dampak rokok dengan langkah konkret. Karena sesungguhnya, rokok memang murah, tetapi biaya kesehatannya terlalu mahal untuk dibayar.


Komentar

  1. Belum Ada Komentar

Tambahkan Komentar

Testimonial

Blognya keren !!...

Mila Karmila

Metode SEO yang sangat keren!!!......

Dian Herliwan
Kategori